Site icon SMK Negeri 4 Malang

Bawa Literasi Keluar dari Rak Perpustakaan, Pustakawan Remaja SMKN 4 Malang Sukses Gelar Literasi Camp #8 di Coban Jahe

MALANG – Suasana rindang dan sejuk di Coban Jahe, Kabupaten Malang menjadi saksi keseruan para pelajar dalam mengeksplorasi gagasan tanpa sekat dinding sekolah. Pada tanggal 29 hingga 30 Agustus 2026, para pustakawan remaja SMKN 4 Malang kembali menyelenggarakan kegiatan tahunan yang sangat dinanti, yaitu Literasi Camp ke-8.

Berbeda dengan rutinitas belajar di sekolah yang biasanya dihadapkan pada tumpukan buku di dalam ruangan, Literasi Camp 8 kali ini membawa aktivitas literasi sepenuhnya ke alam terbuka. Di sini, para siswa bermalam di tenda-tenda sederhana dan memanfaatkan alam bebas sebagai ruang belajar yang interaktif.

Rukhan, salah satu pelopor dari kegiatan ini, menegaskan bahwa esensi dari literasi tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat dinding perpustakaan. Menurutnya, alam terbuka memberikan keleluasaan yang lebih besar bagi siswa untuk mengeksplorasi imajinasi serta mengemukakan ide-ide kreatif mereka.

“Kegiatan seperti ini membuat mereka tidak jenuh, tidak diam saja, dan menjadi kutu buku,” ungkap Rukhan.

Ia menambahkan bahwa jika belajar di perpustakaan sekolah, siswa biasanya hanya bertahan membaca sekitar satu jam, bahkan sering kali harus menahan diri agar tidak dianggap mengganggu ketenangan pengunjung lain. Sebaliknya, di alam bebas seperti Coban Jahe, mereka bisa berdiskusi secara lepas, bertanya dengan lantang, dan menyuarakan pendapat tanpa rasa takut.

Untuk menunjang proses tersebut, Literasi Camp 8 dikemas melalui berbagai agenda kreatif, seperti talkshow, permainan (games), diskusi kelompok, hingga kegiatan menulis. Melalui rangkaian acara interaktif ini, siswa diajak untuk tidak sekadar menerima informasi secara pasif, melainkan aktif mengolah informasi tersebut menjadi gagasan baru dan mengomunikasikannya kepada orang lain.

Pada pelaksanaan kali ini, SMKN 4 Malang berkolaborasi dengan MTs NU Pakis, SMKN 12 Malang, Pengiat Literasi Kota Kediri dan Lamongan. Pertemuan tersebut membuka kesempatan bagi peserta untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, berdiskusi, dan mengerjakan aktivitas bersama.

Di tengah pesatnya perkembangan dunia digital, tantangan bagi generasi muda kini bukan lagi sekadar mencari informasi, melainkan bagaimana menyaring dan menghasilkan karya yang positif. Oleh karena itu, harapan yang dititipkan melalui kegiatan ini sangatlah esensial.

Rukhan berharap para peserta memiliki keberanian untuk mengenali perasaan serta pemikiran mereka, lalu menuangkannya ke dalam sebuah karya nyata.

“Di era digital seperti sekarang, saya ingin mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan sesuatu dari apa yang mereka pikirkan dan rasakan,” harapnya.

Meski hanya berlangsung selama dua hari, kegiatan Literasi Camp 8 telah memberikan perspektif dan pengalaman baru bagi para siswa. Kegiatan ini menjadi pembuktian nyata bahwa untuk menumbuhkan budaya literasi yang kuat, tidak selalu dibutuhkan ruang formal yang kaku. Terkadang, sebuah tenda sederhana di tengah alam bebas, diskusi hangat, dan keberanian siswa untuk mengangkat tangan dan bertanya sudah cukup untuk menyalakan api kreativitas dan melahirkan gagasan-gagasan hebat di masa depan.

Exit mobile version