Selamat Datang, di SMK Negeri 4 Malang

Resensi Puisi

20 Agustus 2015
09:07:46 WIB
Puisi Gugus Karya W.S. Rendra.

 

Puisi ini menyairkan tentang seorang pahlawan yang gugur dalam peperangan demi mempertahanhan kotanya. Awal syair, menyairkan tentang pahlawan yang berperang dan dia merangkak di atas tanah yang dicintanya dan banyak pula peluru yang mengenai musuh. Pahlawan itu sudah tua dan banyak luka di badannya, semua itu demi tanah yang dicintainya. Dia juga seperti harimau tua susah payah tapi tetap akan mati dan matanya pun selalu siaga jika ada musuh di dekatnya. Setelah pertempuran selesai pahlwan tua itu akan diangkan pemuda-pemuda tapi dia tetap berusaha untuk bangkit demi ke kotanya. Tetapi maut sudah menghadang sang pahlawan tua itu. Pada saat tangan sang pahlawan itu di pegang ia berkata : ” Yang berasal dari tanah

kembali rebah pada tanah.

Dan aku pun berasal dari tanah

tanah Ambarawa yang kucinta

Kita bukanlah anak jadah

Kerna kita punya bumi kecintaan.

Bumi yang menyusui kita

dengan mata airnya.

Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.

Bumi kita adalah kehormatan.

Bumi kita adalah juwa dari jiwa.

Ia adalah bumi nenek moyang.

Ia adalah bumi waris yang sekarang.

Ia adalah bumi waris yang akan datang.”

makna dari perkataan seorang pahlawan itu yaitu dia mencintai tanah yang dicintainya dan dia mengatakan bahwa setiap orang terbuat dari tanah dan akan mati dan menyatu pada tanah sehingga setiap orang akan mati. Bumi juga adalah tempat yang paling tepat untuk meyatukan diri dengan tanah. Bumi juga adalah harta bagi masa depan anak cucu kita. Hari pun semakin malam tapi peperangan di kota ambarawa semakin bergejolah. Dan pahlawan tua itu kembali berkata :

“Lihatlah, hari telah fajar !

Wahai bumi yang indah,

kita akan berpelukan buat selama-lamanya !

Nanti sekali waktu

seorang cucuku

akan menacapkan bajak

di bumi tempatku berkubur

kemudian akan ditanamnya benih

dan tumbuh dengan subur

Maka ia pun berkata :

-Alangkah gemburnya tanah di sini!”

makna dari perkataan itu yaitu kita akan menang. Sesaat itu dia akan di kubur di bumi yang dicintainya dan akan menyatu untuk selama-lamanya. Dan aka nada cucunya sang penerus dia yang akan meneruskan perjuangan sang pahlawan demi bumi yang dicintainya. Dan setelah itu pahlawan gugur dalam peperangan dan dia telah meninggal demi bumi yang di cintainya.

 

Nama : Mas Agus Setyo P (18/XI RPL C)

 

 

Nama : Elviera Ning Linardi
Kelas   : XII RPL-C
No. Ab: 09

 

Dengan Puisi, Aku

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercerita
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian yang akan datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam menangis
Dengan puisi aku mengetuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
                                                          (Tufiq Ismail)

Menurut saya penulis puisi ini selalu menceritakan perjalanan hidupnya melalui puisi.
Apapun yang di rasakan dalam hidupnya kesedihan, kesenangan, kebahagiaan, maupun hubungan horizontal dengan Tuhan.
Bernyanyi yang biasa di lakukan orang dengan mengerluarkan suaranya tetapi berbeda dengan penulis puisi ini. Dia bernyanyi hingga usia tuanya melalui goresan puisi di atas kertas. Oang melampiaskan cinta dan menikmati cinta selalu dengan pasangannya. Sedangkan penulis puisi ini bercinta dengan keindahan alam. Setiap hal dan setiap peristiwa yang dia lalui, dia kenal melalui puisi. Dan cerita akan keabadian yang penulis percaya akan datang melalui puisi. Kesedihan menghiasi puisi yang di tulis oleh penulis. Tangisan dan kesedihan yang sangat mendalam tergambar pada jarum yang dapat memotong waktu yang tak diinginkan. Bahkan penulis mengutuk melalui puisi karena keburukan yang telah busuk di dalam tenggelamnya zaman. Dan akhirnya penulis memohon akan kebaikan zaman yang telah busuk dan dia sangat memohon akan do’anya dapat di kabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa

 

HAL-HAL YANG DI UNGKAPKAN PENYAIR

1.Tema Puisi
Dalam puisi ini, penyair memberikan tema kemanusiaan. Melalui peristiwa atau tragedi yang di gambarkan penyair dalam puisi ini berusaha meyakinkan ketinggian martabat manusia, oleh karena itu manusia harus dihargai.
2. Nada dan Suasana Puisi
Dalam puisi ini, penyair memberikan nada yang kharismatik.
3. Perasaan dalam puisi
Puisi merupakan perwakilan perasaan penyair, perasaan menjiwai puisi. Dalam puisi “Dengan Puisi,Aku” karya Taufiq Ismail ini mengungkapkan perasaan yang terasing.
4. Amanat Puisi
Amanat yang terkandung dalam puisi tersebut adalah:
a. Meskipun usia terus berlanjut, tetapi jangan pernah berhenti untuk berkarya.
b. Menyayangi sekitar.
c. Renungkanlah kehidupan yang telah berlalu, dan renungkanlah juga.
d. Kehidupan yang akan datang, agar menjadi lebih baik lagi.
e. Pertahankan norma dan etika, sekalipun zaman sudah rusak.
f. Teruslah berdo’a agar semua berubah ke arah yang lebih baik lagi.

 

 

Sebatang Lisong

Karya: WS. Rendra

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

19 Agustus 1977
ITB Bandung

 

Sebatas Lisong Kecil

Karya: Betta Glorentina Mukti

 

Keadaan Negara kita yang tidak sebagaimana mestinya. Tapi yang sampai saat ini masih belum mendapat kejelasan dan kepastian. Hanya pengantar yang singkat, yang bisa diberikan. Berjuta – juta mereka yang kecil yang hanya bisa melihat dan membaca Negerinya. Dan berjuta – juta pula berbagai keluhan – keluhan berbeda yang sangat mengerikan terjadi, seakan – akan ingin berteriak lantang untuk menemukan kepastian dalam Negerinya yang hanya dikuasai oleh para petinggi yang tak beres, sehingga membuat rakyat kecil berteriak perih. Banyak para petinggi yang diberi amanat untuk menjaga malah menjaga untuk diri pribadi mereka sendiri contohnya para korupsi, penyelewengan atau tindak penindasan yang terjadi di Negeri ini. Tetapi mereka masih bisa tertawa dengan kesalahanya diatas penderitaan kaum – kaum kecil.

Tidak sedikit anak – anak generasi negara yang masih terdampar dijalanan yang tak tahu apa itu Pendidikan, karena kenyataan di Negeri ini banyak anak – anak yang berkeliaran mencari nafka untuk kehidupan yang mungkin jauh dari kata cukup, keterpaksaanlah yang mendorong mereka, mereka yang seharusnya menikmati duduk di bangku kayu dengan memegang alat tulis dan mendengarkan guru pendidik yang memanusiakan mereka pada pagi hari, tetapi malah sebaliknya yang terjadi pada anak – anak di Negeri ini.

Banyak aspirasi – aspirasi yang terbuang sia – sia karena sikap acuh, egois dan tak mau tahu para petinggi yang sangat mengecewakan masyarakat. Bahkan, Pahlawan Tanpa Jasa juga tak sedikit yang apatis dengan persoalan – persoalan yang melanda bangsa ini.

Lalu bagaimana masa depan bangsa, terutama masa depan anak – anak bangsa dengan pendidikan mereka yang terpuruk, meninggalkan kelas – kelas dimana segudang ilmu terdapat disitu. Apa yang mereka lihat dimasa depanya ?. Seharusnya pemerintah meratakan pendidikan bukan kasus suap yang tersorot lampu jalanan.

Seperti menghirup udara kotor yang penuh bau sampah melihat para sarjana – sarjana yang menganggur di jalanan. Dan tak sedikit di Negeri ini orang – orang yang ingin selalu dibayar, tapi malas dalam kerjanya .

Mungkin masyarakat belum berani untuk memperjuangkan dan mengatakan aspirasi yang ada pada benak mereka, dan masyarakat masih belum sadar untuk merubah dirinya masing – masing yang masih bersikap pasrah dalam persoalan – persoalan yang melanda bangsa ini, bahkan tak mau tahu tentang hal itu dan mereka selalu pasif dan tidak kreatif dalam dirinya sendiri.

Masyarakat dituntut lebih melihat keatas tentang persoalan – persoalan yang terjadi agar perjuangan para pahlawan yang bertujuan memerdekakan Negeri ini benar – benar terwujud, yaitu mensejahterakan rakyat Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai Negeri yang terbebas dari kata keterpurukan.

Hanya hal – hal yang indah saja yang terlihat para petinggi. Seharusnya keburukanlah yang perlu dicatat dan dipahami oleh para petinggi. Dan peduli terhadap si pekerja – pekerja cilik di Negeri ini yang dibiarkan terlantar.

Berfikir optimis bahwa dimasa depan akan datang bunga – bunga bangsa yaitu penerus bangsa yang akan memajukan dan mensejahterakan Negeri ini. Dan bisa merubah kehidupan bangsa ini menjadi bangsa yang lebih maju dan bisa menciptakan kehidupan yang layak bagi bangsa terutama bagi generasi – generasi penerus bangsa dengan generasi yang berwawasan dan berilmu yang akan menjadi cikal – bakal kapten nahkoda kapal Negeri ini yang tak akan membiarkan kapal karam oleh besar kecilnya ombak yang tak tentu.

Membuka otak – otak manusia yang cara berfikirnya masih dangkal. Pekalah, bagi yang akan selalu menjadi para buruh, bukan guru, untuk terbangun dan sadar bahwa kita sekarang masih tertidur dalam pangkuan atasan.

Sekali lagi, bukalah mata bagi yang apatis terhadap keadaan yang ganjil. Meskipun dalam hal apapun kita bebas, tapi sia – sia jika kita tidak bisa melihat hal disekeliling kita dan apatis terhadap hal itu. Setidak – tidaknya kita sebagai kaum kecil masih bisa merubah dan menciptakan hal baru meskipun itu kecil.
Share

    Kepala Sekolah

    Kepala Sekolah

    Web Link

    Berita Terpopuler

    PENDAFTARAN PPDB SMKN 4 MALANG  MELAKSANAKAN  3
    SMK Negeri 4 Malang Membuka pendaftaran Penerimaan Peserta Didik

    Artikel Terpopuler

    Puisi Gugus Karya W.S. Rendra.   Puisi
    Arti Logo SMK Negeri 4 Malang :   Kali ini kita

    Facebook Fanpage

    Tag Cloud